Tuesday, November 09, 2010
# 202. Mengantarkan Kemandirian Anak-anak
Tulisan ini saya buat khusus untuk mendorong saya pribadi agar bisa melapangkan hati saya, meluruhkan sedikit demi sedikit kekhawatiran-kekhawatiran yang menggelayuti relung-relung hati saya, dan mengisinya dengan pikiran-pikiran positif, agar saya RELA, IKHLAS, dan LAPANG melepas anak-anak secara mandiri seiring dengan semakin bertambahnya umur mereka. Lalu apa maksudnya?

Begini, tinggal di kota besar di Indonesia dimana tingkat kriminalitasnya makin meningkat, membuat sebagian besar orang tua, terutama Ibu, dan khususnya adalah saya agar senantiasa waspada mengawasi anak-anak, baik ketika di rumah bersama kita, maupun ketika mereka bermain di luar, atau juga ketika dihadapkan pada suatu kondisi yang bisa dikatakan mengharuskan mereka untuk mulai bisa pergi sendiri ke sekolah mengikuti suatu kegiatan semisal ekskul, maupun tiba-tiba harus pulang sendiri ke rumah dari sekolah. Jujur sejujur-jujurnya....saya berat membiarkan mereka berdua naik angkot sendiri. Saya rela menjemput mereka atau juga mengantar mereka walaupun saya harus susah payah mengatur waktu untuk persiapan berangkat dari rumah, sambil menggendong adiknya yang baru berusia 17 bulan. Capek di badan tidak seberapa, asalkan mereka selamat. Intinya saya ingin memberikan perlindungan semampu saya, mengingat makin maraknya penipuan dan penculikan anak. Bila mengingat itu semua, begidik hati saya, ciut hati ini, lalu bermunculan pikiran-pikiran negatif yang makin lama malah membuat saya semakin stress. Namun permasalahannya adalah, apa yang saya rasakan dan saya pikirkan ini bertentangan dengan konsep pemikiran suami saya. Suami menginginkan agar anak-anak harus mulai dilatih mandiri. Misalnya naik angkot sendiri ke sekolah atau pulang sekolah. Toh memang kalau diperhatikan, banyak juga anak-anak seusia mereka baik laki-laki maupun perempuan yang naik angkot sendiri ketika pergi/pulang sekolah. Mereka nyantai saja dan tampaknya juga baik-baik saja.

Saya mencoba menyampaikan apa yang saya rasakan ini pada suami, tapi tampaknya memang dia ingin agar saya pelan-pelan melatih anak-anaknya itu. Saya dibilang overprotektif lah, terlalu parno lah, jadinya malah merusak mental saya sendiri dan membuat saya lelah memikirkannya. Akhirnya diujung rasa lelah yang mendera hati ini, saya bertanya pada diri saya sendiri: "Apakah saya salah merasakan hal ini, mengkhawatirkan keselamatan mereka ini? Apakah memang saya yang tidak normal karena terlalu berlebihan mengkhawatirkan mereka?"

Saya mencoba menghubungi teman senior saya yang anaknya saat ini telah masuk SMP. Saya coba curahkan apa yang rasakan ini padanya. Teman saya malah bilang bahwa dia baru melepas anaknya naik angkot ya saat masuk SMP ini. Oh, berarti saya masih wajar dong, pikir saya.
Kemudian saat saya menelpon kakek dan neneknya anak-anak dan membicarakan masalah ini, kedua orang tua saya tidak sepenuhnya menyalahkan kekhawatiran saya. Silakan dicoba saja, karena memang usia anak-anak sudah cukup besar. Dan tenangkan hati, banyak berdo'a memohon keselamatan dari Allah, begitu nasihat keduanya.

Akhirnya saya putuskan untuk mohon petunjuk dariNya. Saya perbanyak sholat, tilawah dan berdzikir untuk memohon kelapangan hati. Saya perbanyak bahan bacaan tentang melapangkan hati ini, yang bisa menguatkan hati dan pikiran saya. Hingga tak sengaja saat saya nonton sinetron Islam KTP di TV, ada petuah begini:

"Bahwa anak, suami, istri, dan orang-orang yang kita sayangi adalah bukan milik kita. Kapan saja Allah mengambilnya kita harus siap. Yang justru harus kita khawatirkan adalah saat kita KEHILANGAN KEIMANAN kita. Karena sesungguhnya itulah harta kita, bekal kita kelak di sana. "

Ya Allaah..saya menangis, entahlah..tiba-tiba hati ini terasa lapang. Dan saya siap melatih anak-anak untuk mandiri. Saat ini mereka telah beberapa kali berangkat futsal naik angkot berdua. Dan pulang sekolah juga naik angkot berdua. Mereka saya bekali handphone, agar saat pulang menelpon saya. Supaya saya tahu kalo mereka telah pulang. Tak henti-hentinya saya mengingatkan agar berhati-hati dan waspada. Tak putus-putusnya saya berdo'a mohon perlindungan Allah untuk mereka. Saya pikir memang inilah FASE yang harus dihadapi oleh semua orang tua saat melatih kemandirian anak-anaknya. Saya yakin, di dalam hati yang terdalam suami saya pastilah juga menyimpan kekhawatirkan terhadap keselamatan anak-anak. Namun karena dia laki-laki jadi lebih bisa menguasai perasaannya. Setiap orang tua pasti juga merasakan apa yang saya rasakan ini. Bahkan sampai anaknya dewasa pun terutama seorang Ibu pasti masih suka mengkhawatirkan anaknya. Contohnya adalah Ibu saya dan Ibu mertua saya. Saat melepas kami berangkat ke negeri sakura untuk berjuang menuntut ilmu sekaligus titik awal kami membina rumah tangga, begitu jelas tampak kesedihan pada raut wajah keduanya. Walaupun mereka terus menghibur dan menguatkan kami agar selalu sabar, namun diam-diam mereka juga menguatkan hati mereka sendiri yang akan berpisah dengan kami untuk beberapa waktu lamanya. Kekhawatiran mereka jauh lebih besar daripada kekhawatiran kami. Itulah sebabnya kasih Ibu sebabnya kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Sekarang saya telah merasakannya sendiri. Ternyata seperti ini beratnya.

Labels: , ,

posted by yubisaki @ Tuesday, November 09, 2010  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
 
About me
My Photo
Name:
Location: Bekasi, Indonesia

Female, 32, Wong nJowo, Jogging, Beladiri, movie, dorama, love family, love INDONESIA -peace-

Storiez
Archives
Friends
Links
Belajar Nihongo
Comunity
Indonesian Muslim Blogger
Photobucket - Video and Image Hosting
Credit
Powered by Blogger
Visitors


free counters



web site counters
Dell Coupon

Template by
Blogger templates