| Friday, November 12, 2010 |
| # 203. Profesionalitas Jasa Pengiriman Barang |
Apa yang terlintas dalam pikiran kita mengenai Jasa Pengiriman Barang? Tentu saja orang yang menyediakan jasa untuk mengirimkan barang yang kita titipkan agar sampai ke tempat tujuan dengan selamat dengan biaya tertentu yang telah ditetapkan.
Saya tidak sedang membahas nama-nama perusahaannya itu apa saja, yang saya pikir memang sekarang ini telah banyak pilihan selain PT. Pos. Mereka juga melayani pengiriman ke luar negeri. Hal ini memang patut disyukuri, karena tentu sangat membantu kita menentukan pilihan, syukur-syukur dengan rumah kita. Yang sedang saya cermati akhir-akhir ini adalah tentang profesionalitas dalam hal penyampaian amanah kepada yang berhak menerima langsung barang tersebut. Dan ini adalah pengalaman saya pribadi baik secara langsung maupun tidak. Ada 2 buah cerita yang ingin saya sampaikan sehubungan dengan hal tersebut.
Cerita 1:
Saya mengirimkan paket jam tangan kepada teman saya yang tinggal di luar kota (wilayah Jawa Tengah) melalui salah satu jasa pengiriman barang yang cukup terkemuka. Di situ saya ditanya, kira-kita harga jamnya berapa. Karena kalau jamnya mahal sebaiknya diasuransikan saja. Jadi kalo hilang, yang mengganti barang bukan saya. Setelah saya sebutkan harga jam tangan tersebut, petugasnya langsung menjawab kalo harga itu mahal. Jadi sebaiknya diasuransikan saja, tapi keputusan tetap ditangan saya. Kalo saya tidak mengasuransikan juga tidak apa-apa dengan risiko kalo hilang sayalah yang menanggung sendiri. Akhirnya saya minta dihitungkan biayanya semua dengan asuransinya. Ternyata biayanya tidak begitu mahal. Cuma, barang yang telah saya bungkus rapi musti dibongkar, karena mau diliat merk dan no serinya dulu. Tidak masalah, asal dirapikan kembali, begitu jawab saya. Untuk rentang waktu pengiriman saya pilih yang kilat, dimana butuh 1 hari saja untuk sampai ke tujuan. "Kira-kira besok sekitar pk 12 siang, Bu", demikian penjelasan dari petugasnya. Saya ingat, teman saya itu kerja seharian jadi tidak mungkin pk 12 siang udah di rumah. Saya sampaikan hal itu ke petugasnya, kira-kira bisa tidak kita pilih jam barang untuk sampai di tempat tujuan. Supaya bisa bertemu dengan tuan rumahnya. Katanya tidak bisa. Ya sudah, biarlah nanti teman saya yang atur waktunya sendiri, asal saya kabari saja kondisinya..begitu pikir saya.
Dua hari setelah saya mengirimkan barang, teman saya sms, katanya barang sudah diterima dia kemarin. Dititipin ke tetangganya, karena dia tidak di rumah pada saat itu. Saya lega. Tapi..ada hal yang mengganjal dalam hati saya. Saya merasa aneh saja. Ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak saya:
1. Mengapa mereka berani sekali MENITIPKAN barang tersebut ke tetangga teman saya itu? Iya kalau tetangganya itu orang situ, lha kalo itu saudara tetangganya bagaimana?
2. Mengapa petugasnya begitu percaya kepada tetangga teman saya itu, kalau barangnya bakal disampaikan ke teman saya yang merupakan tetangganya? Apakah petugasnya bisa menjamin?
3. Kalo akhirnya teman saya itu tidak menerima barangnya, apakah termasuk katagori hilang?? Setahu saya yang termasuk katagori hilang/rusak itu saat proses perjalanan. Kalo sudah nyampe ke tangan orang yang menerima tentu si penerima melakukan tanda tangan bukan? Saya tidak yakin kalau terjadi beneran bakalan bisa diklaim. Fiuuuh...
---------
Cerita 2:
Saya join jadi member salah satu produk kecantikan. Begitu proses join selesai dan saya telah menjadi membernya, maka saya dikirimi piranti-piranti yang musti saya pelajari. Paginya, saya ditelfon oleh seseorang yang merupakan pengantar piranti tersebut. Dia tanya ancer-ancer gang masuk rumah saya. Saya tanya, kira-kira kapan nyampenya? Katanya masih ntar sore an. Oke, saya tunggu. Sore hari, sekitar pk 15.30 pembantu rumah sebelah saya mengetuk pintu rumah saya. Dia mengantarkan stater kit saya itu. Lhoh..?, heran khan saya. Katanya, tadi sekitar pk 14.00 an ada orang yang ketok-ketok pager rumah saya sampai kenceng berkali-kali (ini nih yang saya tidak suka sama sekali dengan petugas-petugas pengirim barang. Soalnya sering kejadian seperti ini. kalo ga ketok-ketok pagar..ya ngebel-ngebel bel sepeda motornya "Diiin! Diiiin!". Apa susahnya pintu pagar di buka, trus ketuk pintu rumah saya). Karena tidak ada yang buka pintu, pembantu tersebut yang nyamperin. Akhirnya barang itu dititipin ke pembantu tetangga saya itu. Kejadiannya persis banget khan dengan cerita 1? ----------
Kenapa ya mereka kok berani menitipkan barang yang bukan haknya ke tetangga penerima. Kalo ke suami/istri/pembantu/siapa lah..yang penting masih 1 rumah sama si penerima barang, saya masih bisa terima. Tetapi ini tetangganya? Hal seperti ini profesional tidak, sih?
Mengapa mereka para pemberi Jasa Pengiriman Barang itu tidak memikirkan langkah antisipasi kalau misalnya si penerima tidak berada di rumah sebaiknya bagaimana. Langkah antisipasi itu misalnya:
1. Kalo misalnya kira-kira sudah dekat ke tempat tujuan, telponlah si penerima yang no telponnya tertera di alamat. Informasikan kalo ada barang yang mau dikirimkan ke rumah, ada orang di rumah tidak? Kalau tidak, adanya di rumah jam berapa?
2. Kalo misalnya sudah ketuk pintu ternyata tidak ada orang di rumah yang bukain pintunya, tuliskan slip yang bisa diselipin ke pintu (dekat handle pintu, atau yang sekiranya terlihat). Slip itu berisi informasi tentang kedatangan barang pk sekian. No telpon yang bisa dihubungi untuk konfirmasi pengiriman kembali, atau kalo tidak barang bisa diambil sendiri oleh si penerima di mana. Atau mungkin dikirim keesokan harinya, jadi bisa janjian kembali agar di rumah ada orang sebagai penerima. Jadi jelas, dan bisa menekan risiko barang hilang atau tidak sampai.
Untung saja, kedua cerita saya itu "happy ending". Lha kalau barangnya hilang gimana? Mana saya tahu kalo barang saya dititipkan ke tetangga kalau tetangga saya tidak ngomong ke saya. Toh, petugasnya tidak konfirmasi ke HP saya, kalo barang saya dititipkan ke tetangga saya. Harusnya khan saya juga dikasih tahu. Apa repotnya memberi tahu, toh saat mencari alamat saya dia telpon saya untuk minta petunjuk ancer-ancer gang rumah saya.
Poin-poin antisipasi yang saya tulis itu berdasarkan pengalaman saya saat saya tinggal di Jepang. Kedepannya, apakah perusahaan jasa pengiriman barang di negeri kita akan lebih baik pelayanannya? Semoga saja.Labels: curhat, hidup di indonesia, Jasa pengiriman barang |
posted by yubisaki @ Friday, November 12, 2010   |
|
|
|
|
|